Mengenal Toleransi Dari Gus Dur

by on August 16, 2018
Illustrasi by inspirasi.co

“Bukankah dengan saling pengertian mendasar antaragama, masing-masing agama akan memperkaya diri dalam mencari bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan dan kasih sayang?”

(Abdurrahman Wahid)

Seorang tokoh fenomenal yang seringkali dikenal dengan sikap humanis sekaligus kebijakan yang berani mengantarkan beliau sebagai seorang ‘Bapak Pluralisme’yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Beliau merupakan sosok pemimpin sekaligus Ulama yang berpengaruh di Indonesia pada zamannya lebih lagi pada era transisi orde baru menuju reformasi. Peran seorang Gus Dur sangat penting sekali. Pemaknaan judul ini pun menggunakan perumpamaan (analogi) ‘menyelami’ yang bermaksud bahwa sebenarnya sosok Gus Dur merupakan lautan yang luas dan dalam sehingga menyimpan mutiara yang apabila kita dapati maka sejatinya kita akan kaya raya dalam artian memahami pemikiran Gus Dur berarti kita memiliki sekaligus menambah kekayaan pemikiran kita. Lalu bentuk apa yang harus kita selami dalam pemikiran Gus Dur? Ada banyak sekali pemikiran Gus Dur yang dapat kita selami, namun dalam kesempatan ini ada satu tentang pemikiran Gus Dur yang harus kita pahami yaitu tentang toleransi.

Persoalan tentang toleransi tidak akan pernah habis untuk dibahas hingga detik ini. Sebab, ada banyak kasus intoleransi yang hari ini terjadi di negara-negara yang tengah berkembang. Seperti halnya Indonesia, pernah terjadi beberapa kasus intoleransi (kekerasan) yang mengatasnamakan agama. Misalnya kasus pengeboman di Bali, pertikaian berbau sara di Maluku, Poso, Aceh hingga Sampit Kalimantan Tengah. Fenomena seperti ini, memunculkan pertanyaan kritis terhadap bangsa ini. Siapakah yang salah? Padahal masyarakat kita orang yang beragama. Apakah agama membolehkan kekerasan? Atau kita justru me-legal-kan kekerasan atas nama agama? Anehnya islam kini di ‘cap’ sebagai agama yang memulai tindakan kekerasan. Sehingga bermunculan di negara maju istilah ‘islamophobia’(ketakutan terhadap islam). Dalam buku “Berislam Secara Toleran” yang ditulis oleh Irwan Masduqi mengatakan bahwa seorang Penulis kontroversial asal Kanada keturunan Iran, Ali Sina berpendapat “Setelah membaca Al-Qur’an saya terkejut. Saya terkejut karena saya melihat kekerasan, kebencian, ketiakakuratan, kesalahan secara saintifik, kesalahan matematik, absurditas logika, dan kekacauan gramatika. Setalah merasa pusing dan depresif, saya akhirnya menerima kesimpulan bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab Allah, tetapi ayat-ayat setan, cerita bohong dan produk pikiran yang sakit”.  Ali Sina dan puluhan juta orang yang takut akan islam seolah mengisyaratkan bahwa tinakan kekerasan atas nama agama islam tidak timbul dari bagaimana seorang Muslim memahami Al-Qur’an itu sendiri tetapi ayat-ayat Al-Qur’an lah yang mengajarkan kekerasan. Jelas, pendapat seperti ini lah yang mengacaukan peran agama islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamiin. Munculnya istilah islamophobia tersebut muncul sebagai akibat dari sekelompok orang yang memaksakan kehendak atas nama agama tanpa menerima lagi pendapat kelompok lain.

Tindakan seperti itulah yang perlu kita hindari ditengah keberagaman di negara Indonesia ini. Maka hanya ada satu yang harus menjadi pegangan kita sebagai pribadi yang beragama di Indonesia yaitu sikap toleransi. Toleransi tidak hanya dipandang dari sisi islam saja. Toleransi dapat juga dimaknai sebagai prinsip politik di dunia Barat modern. Misalnya, pada masa keemasan filsafat Yunani sejak Socrates (w. 399 SM). Toleransi ala Socrates mengasumsikan bahwa pengetahuan melahirkan kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan tidak dapat diproduksi oleh paksaan, melainkan oleh dialog yang toleran. Model kehidupan seperti ini yang memungkinkan kehidupan yang harmonis dengan menghargai perbedaan. Lalu, bagaimana toleransi ala Gus Dur? Seorang ulama kharismatik tersebut pernah dituduh sebagai neo-PKI. Bahkan Gus Dur mendapatkan gelar Bapak Tionghoa. Padahal jelas-jelas beliau merupakan seorang yang Muslim dan mantan Ketua Tanfidziyah PBNU (1984-1999) yang merupakan organisasi masyarakat islam yang terbesar di Indonesia. Sikap toleransi Gus Dur tidak muncul serta merta begitu saja. Namun, sikap toleransi itu muncul sebagai suatu penemuan setelah melakukan perjalanan panjang beliau. Dimulai pada lingkungan pesantren tradisional Tebuireng Jombang, Krapyak Yogyakarta dan Tegalrejo Magelang. Dari ketiga pondok tersebut memang banyak mengajarkan beliau arti toleransi sebab dalam pendidikan pesantren NU pada umumnya, toleransi merupakan ajaran yang sering disuguhkan para Kyai sehingga tertanam dihati para santri. Pesantren mengajarkan kepada Gus Dur jargon toleransi Al-Syafi’i (Imam Syafi’i): “Pendapat kami benar tetapi mungkin salah, sedangkan pendapat kalian salah tetapi mungkin benar”. Jargon fiqih (disiplin keilmuan dalam islam) menunjukan bahwa kebenaran pemikiran manusia tidak bersifat mutlak dan tidak diperbolehkan merasa benar sendiri sembari menyalahkan pendapat orang lain.  Gus Dur banyak belajar dari Al-Syafi’i tentang prinsip toleransi yang terbangun dari kerendahan hati yang didalamnya terdapat pengakuan kemungkinan salah pada diri sendiri.

 

Pada pengembaraan seorang mantan Presiden RI ke-4 tersebut di Universitas Al-Azhar Kairo dan Universitas Baghdad, beliau banyak mengenal tentang gagasan-gagasan pembaharuan islam yang berkembang di Timur Tengah. Al-Azhar merupakan Universitas Islam tertua di dunia yang mengusung moderatisme dan toleransi. Seorang tokoh reformis Al-Azhar kenamaan yaitu Muhammad Abduh pernah berkata: “Jika seseorang mengeluarkan kata-kata yang mengandung kemungkinan kekufuran dari seratus sisi tetapi mengandung keimanan dari satu sisi saja, maka arahkanlah kata-kata itu kepada keimanan dan tidak boleh dikafirkan”. Hal itu senada dengan kritik Gus Dur terhadap kelompok islam garis keras yang mudah menyesatkan kelompok lain dalam Syi’ir Tanpo Wathon. Gus Dur menyatakan,

“Akeh kang apal Qur’an hadise

Seneng ngafirke marang liyane

Kafire dewe ndak digatekke

Yen isih kotor ati akale.”

Artinya, “Banyak orang yang menghafal Al-Qur’an dan hadis tetapi suka mengkafirkan orang lain. Orang kafirnya sendiri malah tidak diperhatikan. Hal itu terjadi karena hati dan akalnya masih kotor”. Gus Dur sebenarnya mengingatkan kepada kita semua agar mengkaji islam secara metodologis dan komprehensif. Selain itu, seseorang agar bisa membersihkan hati dan pikirannya agar tidak mudah berburuk sangka kepada orang lain yang berbeda pendapat. Sebagai suatu langkah untuk menjadi Muslim yang toleran. Meskipun sebelumnya Gus Dur juga mengakui dirinya pernah mengikuti gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) di Jombang pada tahun 50-an. Namun setelah beliau melihat perselingkuhan IM dengan ideologi radikal dan setelah mendalami Nasionalisme Arab di Mesir tahun 60-an dan Sosialisme Arab di Baghdad, maka Gus Dur menyadari sepenuhnya bahwa islam sebagai jalan hidup yang saling belajar dan saling mengambil dari berbagai ideologi non-agama serta berbagai pandang agama-agama lainnya.

Akhirnya Gus Dur mengemukakan bahwa umat islam sudah semestinya mengadakan penafsiran baru (reinterpretasi) terhaap ajaran-ajaran agama yang telah diselewengkan oleh kelompok radikal guna me-legal-kan kekerasan. Penafsiran dalam artian kita diajak untuk membaca lalu mengoreksi kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Sebab islam aalah agama yang penuh kedamaian bukan kekerasan. Hal itu dibuktikan masuknya islam di Indonesia dengan penyebaran yang penuh toleransi dan kebaikan. (*am)

Sumber;

Buku Berislam Secara Toleran oleh Irwan Masduqi

Handout Kelas Pemikiran Gus Dur

Leave a Comment